Mata masih berat untuk terbuka. Memaksakan diri untuk bisa menatap minimnya cahaya buram yang semakin lama semakin menunjukan kecerahan bayangnya. Udara dingin subuh ditambah titik-titik yang jatuh memberi sedikit alunan musik di atas pelindung surga. Duduk sejenak
mencoba mengumpulkan nhyawa yang masih mengambang. meneguk sedikit yang hangat seraya berpikir rencana apa untuk menembus tirai tirani sejuk menembus tulang.
detik tak lama bergulir. dia si tangguh mulai menyiapkan senjata dan tunggangannya. sedikit memberi aba-aba dengan suara yang diusahakan pelan namun tetap membuat si hitam yang tangguh merasa sedikit ber semangat. mengamati sedikit keadaan diluar tempat persinggahan. dengan sedikit laporan mulai memutuskan untuk tetap berjuang.
masuk kembali dengan menggenggam jubah utama dengan sedikit tetes air yang menetes dari rambut kebanggannya. hanya bisa mengikut apa maunya, bukan berarti tak punya pilihan tapi lebih memilih untuk mendukung semangat tanpa batasnya. mencoba mengukir senyum walau tak bisa. terus bergerak membereskan perlengkapan senjata perekam keabadian. setelah semalam suntuk merasakan hangatnya ruang tamu sembari mengisi amunisinya.
langkahnya semakin tegas. mulai memasang rompi anti embun tetap dengan bawahan jeans kebanggaannya. kaos kaki berharap bisa sedikit membentengi diri. dengan tambahan sendal gunung yang cukup kuat. kaki mulai mengangkang menunggangi si hitam yang sudah mulai menggebu. to be continued...
#TujuhTerbalik #Book_3 #BB/RB #Part_1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar