Selasa, 11 Oktober 2011

sedikit curahanku



Berawal dari disebuah pagi yang dingin, seperti biasa lingkungan kompleks yang sepi tanpa hingar binger binatang besi. Pagi bulan Ramadhan ini cukup melelahkan setelah seminggu lebih disibukan dengan kegiatan padat di kampus. Dan harus disambung lagi besok.
Rencanana hari ini, memang sih ingin bermalas-malasan, apa lagi hari libur seperti ini, tapi yah… harus melakukan ina ini itu, dan masih banyak lagi. Huft… oh ya, saking asyiknya certita sampai-sampai  belum sempat memperkenalkan diri. Hehe…
Nama lengkap saya Dini Surianto, temen-temen sih banyak yang manggil Dini, padahalkan itu nama keluargaku..  maklumlah kebanyakan orang di Indonesia ‘kan belum terbiasa dengan nama marga didepan. Saat ini umurku baru 17 tahun. Aku lahir di Sambas, tepatnya desa sekura kec. Teluk keramat. Ngomong-ngomong teluk keramat masa’, ada dosenku yang bilan sungan keramat, ‘kan ‘gak nyambung ya… aya-aya wae…. Udah ah, kenalannya, nanti juga kalian para pambaca setia akan tahu lebih banyak tentang saya lewat cerita-cerita yang kuberikan. Ini kisah nyata lho, 100% asli.
Mari kita sedikit flashback ke masa lalu. Ini pertama kalinya saya merantau sen
diri jauh dari orang tua dan kampong h
alaman yah apalagi selain untuk menuntut ilmu. Dari mulai kecil, SD, SMP dan SMA, aku selalu dekat dengan keluargaku. Maklumlah aku berasal dari keluarga baru sebagai anak pertama, jadi ortuku khawatir jika aku  merantau sendiri, mereka bilang aku belum bias mandiri, memang benar sih, tapikan aku juga ingin belajar dan juga ingin mencoba. Lho koq sekarang ceritanya paki ‘aku’ ya..?? tak ape ya biar sedikit lebih akrab. Hehehe
Dulu waktu selesai di sekolah menengah pertama, aku ingin sekali masuk STM jurusan Komputer di kota Wisata Singkawang. Tapi yha, seperti aku bilang tadi, tidak dapat izin. Akhirnya, aku melanjutkan saja ke SMA yang ada ditempatku. Mulai dari SMA inilah aku mengukir cerita-cerita abadiku di atas batu yang tak ‘kan terhapus. Awalnya sih aku orangnya agak cupu ya, maklum aku tidak pandai bergaul seperti temen-temanku kebanyakan. Tapi itulah aku. Aku sadar dan aku tak ingin terus berada dilembah yang lembab ini, aku ingin bangkit, keluar dan brkarya dikehidupan yang keras diluar sana.
Seperti biasa, awal masuk SMA pasti ada kegiatan yang namanya MOS. Dari kegiatan inilah aku mulai belajar melatih mentalku. Aku mulai berkenalan dengan teman-teman, berinteraksi dengan orang-orang yang asing bagiku. Banyak sih teman-teman SMP’ku yang juga melanjutkan di SMA yang sama denganku. Bahkan mendominasi, beruntung yha…
Hari-hari ku jalani seperti biasa, hari-hariku diwarnai dengan tugas-tugas dari guru-guru. Satu yang membuat aku betah sekolah di sana, seorang gadis berambut gelombang (dulunya, sekarang sudah diribonding, gitulah bahasa kerennya) punya senyum manis baik, ramah, sopan, yang membuatku lebih tertarik dulu waktu masih duduk dibangku SD dia sering main ke rumahku, maklum saja ayahku dan ayahnya temen, jadi setiap ayahnya ada urusan dengan ayahku dia selalu ikut. Aku orangnya pemalu ya, sampai-samapai aku tak sempat kenalan dengannya. Itu yang kusesalkan dari hidupku dulu, kenapa aku susah sekali bergaul.
Sampai akhirnya aku baru benar-benar kenal dia saat SMP. Banyak sih yang ‘ngincer’ dia, membuatku sedikit minder. Yha udah aku temenan saja dengan dia mencoba menjadi sahabat yang baik. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya, walaupun hanya untuk sekedar mengucapkan hai, hallo, apa kabar. Sekedar basa-basi biasa saja. Lama kelamaan aku mulai cocok dan akrab dengannya seperti dua sejoli hehe… walaupun statusnya cuma sebagai sahabat. Mungkin aku saja kali ya yang merasa ke’GR’an. Banyak menghayal juga kayaknya, ya begitulah aku merupakan salah satu manusia yang diberikan karunia imajinasi yang tinggi. Aku tidak tahu itu anugrah atau musibah, yang pasti hal tersebutlah yang membuat aku sulit bergaul kar’na aku merasa tak pernah kesepian, selalu ditemeni imajinasi-imajinasiku. Ini bukan autis lho.. tapi aku tetap menganggap itu sebagi anugrah koq dari Yang Maha Kuasa.
Setiap hari waktu berjalan aku mulai menjadi lebih baik dan mulai terbuka dengan dunia luar. Yang ternyata membuatku sedikit kecewa. Dengan bodohnya aku berani-beraninya menceritakan perasaanku pada orang yang belum tentu bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Akibatnya persahabatanku dengan orang yang benar-benar kucintai mulai retak. Jumpa gak enak, gak jumpa kangen. Tahukan gimana orang yang lagi malu-malu kucing. Tapi aku tak ingin hari-hari ku berikutnya hampa hanya gara-gara hal sepele semacam itu. Aku coba untuk perbaiki hubungn kami, dibantu dengan teman-temanku. Akhirnya hubungan kami mulai membaik walaupun masih ada rasa tidak enak saat saling jumpa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar